Aplikasi Probiotik Pediococcus Pentosaceus Dan Kotoran Kambing Untuk Pembuatan Kompos Dari Limbah Padat Kulit Kopi

Tri Novita Saridewi

Abstract


Penelitian mengenai aplikasi probiotik Pediococcus pentosaceus dan kotoran kambing  untuk pembuatan kompos dari limbah padat kulit kopi telah dilakukan. Salah satu sentra perkebunan kopi terbesar di Indonesia adalah di Rejang Lebong, Bengkulu. Dengan luas mencapai 44.646 ha sehingga Potensi ketersediaan limbah kulit kopi cukup besar. Jika tidak dikelolah dengan baik, limbah kopi tersebut menjadi timbunan sampah yang lama kelamaan akan membusuk dan mengeluarkan bau yang dapat merusak estetika lingkungan. Selain itu, Pediococcus pentosaceus menghasilkan enzim protease sehingga proses dekomposisi material kulit kopi lebih cepat. Kotoran kambing mempunyai ratio C/N yang rendah sehingga dapat mempercepat proses dekomposisi, smakin rendah nilai C/N waktu yang dibutuhkan untuk pengomposan juga smakin singkat. Kotoran kambing sebagai aktifator memiliki bakteri yang mampu medekomposisi bahan oganik pada material. Kompos ini dilakukan dengan memvariasikan berat kulit kopi dan aktivator kotoran kambing. Penelitian ini terdiri dari 3 BIN, diantaranya BIN 1 berisi Kulit kopi 100 %(A), BIN 2 berisi kotoran kambing dan kulit kopi dengan perbadingan 1:5(B), Sedangkan BIN 3 berisi kotoran kambing dan kulit kopi dengan perbandingan 1:5 serta penambahan Pediococcus pentosaceus(C). Pengukuran untuk masing-masing unsur dilakukan pada minggu ke-enam. Dari kompos yang dihasilkan diuji kandungan air, Fosfor, Kalium, Nitrogen, Karbon organik serta C/N. Kandungan kalium dalam kompos dianalisis dengan metoda Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) pada panjang gelombang 766,5 nm. Sedangkan kandungan fosfor serta karbon organik dianalisis dengan metoda spektrofotometri UV-IS, untuk pengukuran fosfor dilakukan pada panjang gelombang 711,5 nm sedangkan untuk pengukuran karbon organik dilakukan pada panjang gelombang 580,5 nm.   Kadar  masing-masing unsur kompos dibandingkan dengan SNI 19-7030-2004. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan aktivator kotoran kambing dengan menerapkan probiotik Pediococcus pentosaceus membutuhkan waktu selama 6 minggu untuk proses pengomposan. Kompos yang baik terdapat pada Kompos C (perbandingan 1:5 dengan penggunaan Pediococcus pentosaceus). Pada perbandingan tersebut menghasilkan kompos yang baik digunakan sebagai pupuk karena nilai unsur hara seperti fosfor (P), C organik, K telah mendekati standar SNI 19-7030-2004 untuk baku mutu kompos dan  nilai C/N relatif rendah dibandingkan dengan kompos lainnya. Adapun nilai kadar masing-masing unsur untuk kompos C yaitu kadar air  53,33%, kadar Posfor sebesar 0,23%, kadar K sebesar 1,69%, kadar C organik sebesar 57,57%, kadar N sebesar 0,89% dan nilai C/N  sebesar 64,68..

Kata Kunci: Probiotik Pediococcus Pentosaceus, Kotoran Kambing, Kompos, Limbah, Spektrofotometri Serapan Atom


Full Text:

PDF

References


Anang, Firmansyah, M. Teknik Pembuatan Kompos. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Kalimantan Tengah. 2010.

Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Fleet, and M. Wooton. 1987. Ilmu Pangan Universitas Indonesia Press. Jakarta. 365 hlm Dalam Rostini,iis .2007. Peranan Bakteri Asam Laktat ( Lactobacillus Plantarum)Terhadap Masa Simpan Filet Nila Merahpada Suhu Rendah.jati nagor.Universitas Pdajajaran.

Day. Jr. R.A., Al Underwood. 1992. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi IV. Jakarta: Erlangga.

Desmayanti,Z dan Muladi. 1995. Pemanfaatan Limbah Kopi dalam Ransum Ayam Pedaging. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian XII(3): 7- 9 dalam Evita, YV. 2007. Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Kopi, Kotoran Ayam dan Kombinasinya terhadap Ketersediaan Unsur N, P dan K pada Inceptisol .Malang .Universitas Brawijawa.

Dhaval. A, Prateek. S, Pradip. A,Hasmukh. M. 2011. Wheat Straw Composting Through Aspergillus oryzae. Journal of Advances in Developmental Research.Vol 2, No 2

Diana, Oktavia. Perubahan Karbon Organik dan Nitrogen Total Tanah Akibat

Perlakuan Pupuk Organik pada Budidaya Sayuran Organik. Skripsi Sarjana Kimia. Institut Pertanian Bogor ( 2006).

Djamaludin,Wahyono.2006.Pengomposan Sampah Skala Rumah Tangga.Kementrian lingkungan hidup.Jakarta timur.Dobrogosz, W.J. And R.W Stone.1962. Oxsidative Metabolism in Pediocuccus Pentosaseus.University Park and University Pennsylvania

Endang, PRN, Aritonang,Salam.2011.Pengaruh Efektifitas Bakteri Asam Laktat terhadap mMikrobiologis dan Daya Simpan Dadih dibeberapa Daerah diSumatera Barat.Padang. Universitas Andalas.

Evita, YV. 2007. Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Kopi, Kotoran Ayam dan Kombinasinya terhadap Ketersediaan Unsur N, P dan K pada Inceptisol .Malang .Universitas Brawijawa.

Fakultas tekhnologi pertanian, 2010. Pengaruh berbagai aktivator terhadap C/N ratio kompos kotoran kelinci.Semarang. Universitas Semarang.

[`3] Gaur, A.C.1980. Improving Soil Fertility through Organik Recycling. Fundamental of Composting FAO/UNDP Regional RAS/75/004.Project Field Document (13):7-14 dalam Fakultas tekhnologi pertanian, 2010. Pengaruh berbagai aktivator terhadap C/N ratio kompos kotoran kelinci.Semarang. Universitas Semarang.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta

Indriani,H,Y.1999.Membuat kompos Secara Kilat.Penebar swadaya.Jakarta. dalam Fakultas tekhnologi pertanian, 2010. Pengaruh berbagai aktivator terhadap C/N ratio kompos kotoran kelinci.Semarang. Universitas Semarang.

Isroi. Kompos. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bogor. 2008. www.isroi.org

Khopkar, M. S. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Terjemahan A. Sapturahardjo. Jakarta: UI Press.

Lugiyo,2005. Pengaruh berbagai kompos dengan menggunakan probiotik terhadap produksi rumput Panicum Maximum CV Riversdale.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Seminar Nasional Sains dan Teknologi Informasi (SENSASI)